Sajak syair tak akan mengubah kau menghempaskan ucapan

Berlaku adil demi sebuah penghormatan

Tak menduga pengkhianatan berlalu di depan mata tanpa kecurigaan

Saat ini hanya sebutir maaf yang tak dapat terucap kala lidah masih di rantai oleh keegoisan

Mungkin bahasa tubuh bak biola berdawai untuk mendamaikan hati yang terluka

Sejenak memungut fajar hingga senja kembali ke asalnya

Kau tetap pada roda mu mengikuti yang belum pasti dengan arah imajinasimu

Sampai kapan angin berteriak memanggilmu untuk kembali pada asalmu?

Hari ini dan esok, semua jawaban abstrakmu

Pergi selamanya

Disaat kau melepaskan semua seperti air yang mengalir agar semua terlihat baik-baik saja

Ternyata kau salah, membiarkan dia mengikuti arus tanpa membawamu, dia meninggalkanmu agar kau juga baik-baik saja disana

Namun, semua sudah terlihat bahwa dia sudah tak menginginkanmu lagi dan lagi

Membuatmu merasa bersalah, membuatmu mengejar dia sejauh mungkin, dan membuatmu terjatuh sejatuh-jatuhnya

Itulah mengapa jangan pernah membiarkan dia mengikuti arus, hanya penyesalan yang di dapat baginya nanti tetapi bagimu itu adalah hikmah terbesar

Kau dan dia sama-sama belajar untuk saling mengisi bukan saling mengosongi

Kini, semua kembali padamu apakah masih berharap padanya untuk kembali pada pelukanmu atau kah membiarkan dia memeluk yang lain?

Tinggalkan duniamu dan dia, pergilah ke duniamu yang lainnya, kembalilah menjadi sesosok yang lebih kuat sebelum mengenal dia…..

Malam ini rembulan malu menampakkan diri menebar pesona

Tersipu malu dalam keanggunan hingga mata tak dapat berkedip

Isyarat tubuh menyatukan hati mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh

Menggapai jiwa yang harum seakan selalu berada di dalamnya

Lentera bersinar terang memberikan kehangatan pada setiap rusuk

Dan akhirnya semua hanyalah sebuah ilusi nyata

Merayu sang masa lalu agar tak selalu mengintai, aku tau

Berusaha terbangun di setiap denting jam, aku tau

Menyesali masa yang tak dapat pulang kembali, aku tau

Menangis dan menangis saat semua mulai mendekat, aku tau

Dan kehampaan yang selalu menyelimuti raga, aku lemah

Berusaha lari di atas awan, aku mati

Perasa jiwa menanggapi kesunyian yang tak akan pernah habis

Memegang pada yang tak terlihat karena itu adalah tujuan

Menggapai khalayak disetiap langkah hanya untuk berujar pada keyakinan

Mendudukkan lantunan nada sehingga hati mulai bertindak

Berusaha memenangkan kekalahan dan akhirnya sang kegelapan muncul dengan wajah bersinar

Cantik

Keindahan tampak sekilas dalam kegelapan

Mencoba menerpa isu kebencian di setiap gejolak jiwa

Menciptakannya untuk dijaga dan dirawat

Namun kau menghancurkan dengan amarah keegoisanmu

Masih bersemai dalam jiwa untuk tetap bergelut di setiap pembuluh darah

Dan masih menantimu untuk menghancurkan keabadian dalam nurani